*Oleh : Rohmatullatifa, S.E (Tenaga Pendidik dan Aktivis Dakwah)*
Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw selalu menjadi momen kegembiraan umat Islam di dunia, termasuk di Indonesia. Di mana lahirnya Nabi saw merupakan lahirnya sebuah cahaya bagi umat manusia.
Kemeriahan Maulid Nabi ini ditandai dengan berbagai bentuk kegiatan seperti sholawat, tablig akbar, pengajian dan pawai obor. Semua itu karna bentuk kecintaan terhadap Nabi Muhammad Saw. Tapi seharusnya momen perayaan tersebut bukan hanya sebatas seremonial tahunan saja.
Kita harusnya memfokuskan kembali pada sosok manusia yang paling berjasa dalam hidup dan peradaban. Agar kita mampu menjadikan Beliau sebagai satu-satunya pegangan, suri teladan dan uswah yang baik dalam kehidupan.
Kita kagum pada akhlak beliau, tetapi belum tentu kita paham terhadap sistem yang Beliau perjuangkan, kita juga belum tentu berani menolak sistem yang bertentang dengan Islam. Cinta kepada Rasulullah saw. harus diwujudkan dengan ittiba’, yaitu mengikuti petunjuk dan ajaran Beliau.
*Ittiba’ kepada Nabi*
Rasulullah saw. tidak hanya mengajarkan kesalehan individual, tetapi juga membangun masyarakat yang menjadikan tauhid sebagai landasan kehidupan. Beliau menghadapi berbagai bentuk jahiliah yang menempatkan manusia, harta, kekuasaan, dan hawa nafsu sebagai hal yang penting di dalam kehidupan.
Ittiba’ kepada Nabi saw. pada momen Maulid masih hanya sebatas pada keteladanan akhlak, belum menyentuh kesadaran untuk mengubah sistem jahiliah yang merupakan penghambaan kepada dunia dan hawa nafsu menuju sistem Islam yang menegakkan penghambaan hanya kepada Allah.
Tuntutan perubahan sebenarnya telah muncul di kalangan umat Islam, namun arah dan metodenya masih sangat jauh dari metode perjuangan Rasulullah saw.
Karena itu, meneladani Rasulullah saw. semestinya mendorong umat untuk melakukan perbaikan kehidupan secara menyeluruh, bukan hanya memperbaiki perilaku secara individual.
Kini, umat telah kehilangan kesadaran bahwa penghambaan kepada selain Allah masih saja terjadi. Hal ini terjadi melalui penerapan sistem kapitalisme dan liberalisme yang menjadikan dunia serta hawa nafsu sebagai orientasi hidup.
Dulu Rasulullah saw. tidak hanya melawan akhlak buruk orang Quraisy. Beliau melawan sistem jahiliah, baik berupa hukum rimba, dan termasuk menyembah selain Allah SWT.
Adapun hari ini hanya berbeda nama saja. Yang mengajak kita menghamba pada dunia dan hawa nafsu sekarang datang dengan bungkus: Kapitalisme, Sekularisme, Liberalisme.
Hasilnya yang terjadi adalah agama dipisahkan dari negara, umat dipaksa cukup jadi baik secara pribadi tetapi diam saat sistem mendzalimi. Maulid harusnya menyadarkan kita bahwa musuh kita adalah sistem yang melahirkan dosa masal dan kita terhalang dalam perubahan sistem.
Rasulullah saw. adalah teladan utama dalam membangun perubahan. Dakwah Beliau dimulai dengan tatsqif dengan membina keimanan dan kepribadian umat, kemudian tafa’ul ma’al ummah atau berinteraksi dan berjuang bersama umat, dan Istilamul Hukmi atau mengambil alih kekuasaan untuk menerapkan syariat Islam secara kaffah hingga akhirnya terbentuk masyarakat Islam. Dengan metode inilah kehidupan Islam akan tegak kembali, sehingga Islam benar-benar hadir sebagai rahmatan lil 'alamin (QS. Al-Anbiya: 107).
Maulid tanpa syariat seperti tidak ada artinya. Tidak memiliki kekuatan untuk mengubah keadaan. Maka jadikanlah Maulid sebagai komitmen untuk belajar syariat, komitmen untuk berjuang mengubah keadaan, komitmen untuk mengembalikan Islam sebagai sistem kehidupan, bukan hanya ritual pribadi.
Kita harus bersama-sama memperjuangkan tegaknya syariat Islam secara kaffah dalam institusi negara sebagaimana pernah diterapkan Rasulullah dan dilanjutkan para khalifah setelahnya.
Itulah bukti cinta paling besar. Sholawat perlu melahirkan kecintaan kepada Rasulullah saw, kecintaan akan melahirkan ittiba’, dan ittiba’ mendorong kita menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan secara kaffah.
_Wallahu a’lam bish shawaab._