‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Maulid Nabi: Merawat Keteladanan, Melanjutkan Perjuangan Rasulullah ﷺ


author photo

4 Sep 2026 - 07.32 WIB



Oleh : Az Zahra Miftachurrizqi (Aktivis Dakwah)

Tanggal 12 Rabiul Awal memiliki makna tersendiri bagi umat islam, pada momen tersebut sekira 53 tahun sebelum hijriah lahir sosok mulia yang berhasil mengubah sistem kehidupan masyarakat yang sebelum nya penuh kegelapan dan kebodohan menjadi sistem kehidupan masyarakat yang penuh cahaya dan ketinggian peradaban. Ialah baginda Rasulullah ﷺhingga kini setiap tahun nya, momen kelahiran tersebut di rayakan jutaan hingga miliaran umat islam dunia dengan berbagai cara dan tradisi.

Di tanggal tersebut setiap tahun umat islam merayakan Maulid dengan pembacaan shalawat, tabligh akbar, bahkan pawai, namun substansi nya kerap berhenti pada aspek ritual dan emosional. Di indonesia antara lain dilakukan dengan mengadakan acara tabligh akbar yang didalamnya ada selawatan serta di bacakan kitab Al - Barzanji karya Syekh ja'far bin Hasan Al - Barzanji berisi prosa dan syair perjalanan hidup serta silsilah Nabi Muhammad ﷺ. Di Jawa tepatnya di Yogyakarta dan Solo, ada tradisi yang disebut dengan grebeg maulud dan sekatenan, yakni mengarak gunungan berupa makanan hasil bumi dari keraton yang dibagikan kepada warga. Di Balikpapan, tanggal 24 Agustus 2026 SMP 19 merayakan Maulid Nabi ﷺ. Perayaan tersebut di awali dengan pembacaan ayat suci Al - Quran serta alunan sholawat dari tim rebana, lalu di lanjutkan dengan penyampaian tausiyah oleh ustadz Aqil Da'i Muda Balikpapan Tour Leader Konsultan Haji Umroh.

Maulid Nabi Muhammad ﷺ, bukan sekedar momentum untuk mengenang kelahiran manusia mulia yang membawa cahaya islam. Lebih dari itu, Maulid Nabi seharusnya menjadi ruang untuk kembali bertanya kepada diri kita. Sejauh mana kita telah mengenal, meneladani, dan melanjutkan perjuangkan Rasulullah ﷺ.


Katanya Cinta Nabi Tetapi Tidak Nyata, Kenapa?

Pembahasan ittiba' kepada Nabi ﷺ pada momentum maulid masih dibatasi pada keteladanan ahklak, belum menyentuh kesadaran mengubah sistem jahiliyah. Penghambaan kepada dunia dan hawa nafsu , menuju sistem islam yang menegakkan penghambaan hanya kepada Allah. Tuntutan perubahan sebenarnya telat muncul dikalangan umat islam, namun arah dan metode nya masih sangat jauh dari metode perjuangan Rasulullah ﷺ.

Ironisnya, saat maulid tampak lebih kental sebagai agenda seremonial. Bahkan, ada perayaan yang digelar berjalan bertentangan dengan apa yang Rasulullah ﷺ ajarkan. Umat jauh dari syariat Allah, meski dari aspek ajaran ibadah atau ritual, umat islam masih banyak yang menjalankan nya. Mereka shalat, bayar zakat, shaum, dan menunaikan ibadah haji. Namun, pada aspek hablumminnafsihi (ahklak, makanan, minuman, pakaian) banyak umat islam yang melanggar nya tidak perduli dengan apa yang di ajarkan Rasulullah ﷺ. 

Akibatnya, umat menghadapi persoalan yang begitu kompleks. Generasi muda tumbuh ditengah derasnya arus informasi, budaya populer, gaya hidup konsumtif, kriminalitas dan berbagai nilai yang tidak selalu sejalan dengan ajaran Islam bahkan timbul masalah yang makin merajalela dengan level kian tertinggi. Padahal dalam kondisi seperti ini, keteladanan Rasulullah ﷺ menjadi semakin penting.

Bahkan parahnya maulid teredukasi menjadi ekspresi kecintaan tanpa konsekuensi ideologis. Padahal, cinta kepada Rasulullah ﷺ harus melahirkan keterikatan pada risalah dan perjuangan yang beliau bawa. Akibatnya, umat kehilangan kesadaran bahwa penghambaan kepada selain Allah masih berlangsung secara sistemik, melalui demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme yang menjadikan dunia serta hawa nafsu sebagai orientasi hidup. Ambilah contoh didalam sistem kapitalisme, dimana demi mempertahankan eksistensinya, terus berusaha menghalangi suara kebangkitan umat islam yang menuntut perubahan sistem.


Merawat Keteladanan Dengan Mengambil Syariat Yang Kaffah

Sungguh, umat hari ini sangat jauh dari potret generasi dan umat yang berhasil dibina oleh baginda Rasulullah ﷺ, yakni generasi yang berkepribadian islam yang tinggi serta kental visi misi hidup yang berhasil melahirkan peradaban cermelang selama belasan abad. Visi misi tersebut adalah berupa keyakinan dan pemahaman kuat tentang tujuan penciptaan yang melekat pada diri individu setiap muslim, menjadi hamba Allah SWT yang wajib taat secara total kepada pencipta, menjadi khalifah yang mendapat amanah menyebarkan risalah islam ke seluruh dunia, sekaligus memakmurkan dunia dengan menerapkan syariat islam kaffah.

Visi misi inilah yang menjadi rahasia kekuatan negara islam yang Rasulullah ﷺ bangun dan warisi kepada para sahabat dan generasi setelah nya, yakni berupa sistem kekhilafahan. Negara ini mampu tampil sebagai negara yang bervisi global, kuat, berdaulat, mandiri/independen. Bahkan, hanya dalam waktu singkat mampu tampil sebagai negara digdaya dan adidaya hingga mengalahkan negara adidaya sebelum nya, yakni persia dan Romawi.

Maka dari itu, keharusan mengembalikan makna ittiba' sebagai keterikatan pada syariat dan metode perjuangan Nabi ﷺ bukan sekedar ritual. Allah SWT berfirman :
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ [1]
Artinya : “Katakanlah (Nabi Muhammad), "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S Ali-Imran: 31)

Sudah seharusnya kita sebagai muslim memanfaatkan momen maulid nabi sebagai bentuk muhasabah untuk Kembali kepada risalah yang Beliau ﷺ bawa. Menjalani seluruh yang Beliau ﷺ bawa baik dari masalah akidah hingga bernegara, serta melanjutkan Kembali perjuangan Beliau ﷺ agar bisa Kembali melanjutkan kehidupan islam dengan penerapan syariat islam secara kaffah. Allahu’alam bi shawab.
Bagikan:
KOMENTAR