Yuyun Novia, S.Th.I
Di Palangka Raya, ribuan bangkai ayam dilemparkan ke halaman gedung pemerintah. Pemandangan yang mungkin menjijikkan bagi sebagian orang. Namun, pernahkah kita membayangkan keputusasaan seorang peternak yang harus menyaksikan ribuan ternaknya mati, sementara modal, tenaga, dan harapannya ikut terkubur bersama bangkai-bangkai itu?
Sekitar 7.000 ayam mati akibat pemadaman listrik yang mengganggu sistem ventilasi kandang. Kerugian mencapai ratusan juta rupiah. Di balik angka itu ada jerih payah, utang yang mungkin belum lunas, keluarga yang menggantungkan hidup, dan masa depan yang mendadak porak-poranda. Betapa menyedihkan ketika rakyat harus membawa bangkai untuk membuktikan bahwa mereka sedang kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Bukankah listrik merupakan kebutuhan vital yang menopang kehidupan dan aktivitas ekonomi masyarakat? Lantas, siapa yang bertanggung jawab ketika gangguan pelayanan menghancurkan mata pencaharian rakyat?
Negara tidak boleh sekadar hadir sebagai pengelola administrasi, sementara rakyat dibiarkan menanggung sendiri akibat kegagalan pelayanan publik. Dalam Islam, kekuasaan adalah amanah untuk mengurus dan melindungi rakyat. Bukan sekadar memungut kewajiban, tetapi memastikan kebutuhan mereka terpenuhi dan hak-hak mereka terjaga. Jangan sampai rakyat harus berteriak dengan membawa kematian agar negara mau mendengar.
Sebab, ketika jeritan rakyat tak lagi menggugah nurani, sesungguhnya ada yang sedang sakit bukan hanya sistemnya, tetapi juga kepedulian para pemegang amanah.