‎ ‎
‎ ‎

Menag Kembali Nyinyir Soal Bioskop Aceh, Apa Yang Merasukimu Pak?


author photo

1 Feb 2020 - 21.18 WIB



Penulis Oleh: Aisyah Karim (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban) 

Menteri Agama  (Menag) Fachrul Razi, untuk kesekian kali mengutarakan harapannya agar bioskop diizinkan beroperasi kembali di Aceh. Menurutnya kehadiran bioskop akan membuka wawasan dan pengetahuan terhadap perkembangan dunia terkini. "Saya ingin menyarankan di Aceh, tapi belum saya bilang. Mungkin di Aceh bisa ada bioskop lagi yang dimulai dengan (kursi penonton) laki-laki dan perempuan di pisah." Kata Fachrul Razi saat wawancara bersama Tribun Network, di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) RI, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Jumat 31/1/2020.

Menag berpendapat agar bisa menjadi berkah/rahmat bagi semua, maka Islam harus membuka diri. "Saya baru saja berkunjung ke Timur Tengah. Di Arab Saudi misalnya, disana sekarang berkembang sekali budaya keterbukaan, membuka diri kepada bangsa lain," jelasnya.

Fachrul mengungkapkan, negara Timur Tengah sadar betul bahwa keterbukaan tersebut akan menguntungkan mereka. Ia juga mengatakan, kebiasaan berbusana masyarakat Timur Tengah pun kini mulai berubah, banyak kaum hawa yang tak lagi berhijab. Di dalam konteks Aceh ia menyetujui bahwa agama harus di pegang teguh, namun menurutnya menutup diri sepenuhnya juga tidak baik. Karena jika tertutup sekali sulit menerapkan konsep Islam rahmatan lil`alamin.   
-----------

Misionaris Samuel Marinus Zwemer (1867-1952), seorang yahudi menyebutkan: "Misi utama kita bukan menghancurkan kaum Muslim sebagai umat kristen...Tujuan kalian adalah mempersiapkan  generasi baru yang jauh dari Islam, generasi yang sesuai dengan kehendak kaum penjajah, generasi malas yang hanya mengejar hawa nafsu (walaupun mereka muslim)".

Rakan, pernahkah mendengar kata sekuler? kata ini dimaknai sebagai upaya  memisahkan agama dari pengaturan kehidupan. Ketika seorang muslim hanya memandang urusan ibadah adalah domain Allah dan urusan kehidupan adalah domain manusia yang tidak terikat dengan syariah. Contoh kongkritnya adalah ketika muslim melaksanakan shalat dan ibadah lainnya, namun selepas itu ia menjalani aktivitas kehidupan dengan tetap beraktivitas ribawi, bergaul bebas, termasuk tidak memperhatikan standar halal dan haram dalam bermuamalah. Inilah contoh muslim sekuler. Ia hanya mengambil Islam sepenggal kemudian memalingkan dirinya dari pengaturan Islam yang lain. Adakalanya diambil yang menurut pandangannya memberikan manfaat. Yang menurutnya tidak bermanfaat  maka ditinggalkan.

Generasi sekuler seperti inilah yang menjadi harapan Zwemer. Untuk misi tersebut Zwemer bersama misi zending di seluruh dunia merintis langkah menghadirkan muslim sekuler dengan jalan yang amat panjang. Dimulai dengan menyusupkan ulama-ulama suu (ulama jahat) maupun intelektual-intelektual muslim yang berbaju Islam tetapi pemikirannya kufur. Inilah yang dikenal sebagai perang pemikiran. Ulama dan intelektual modernis ini  mendapat gemblengan langsung dari orientalis (pakar Islam dari kaum kafir yang mengkaji Islam untuk menghancurkannya). Anak-anak asuh peradaban barat ini dibesarkan di alam lingkungan sekuler-kapitalis dan dicelup pemikirannya dengan pemikiran-pemikiran kufur yang menyesatkan.

Cara ini sangat ampuh dan bekerja dengan baik untuk menikam tubuh umat Islam. Karena mayoritas muslim menganggap mereka sebagai intelektual muslim bahkan ulama yang layak menjadi panutan. Propaganda demi propaganda dilemparkan ke publik dengan sejumlah pengkajian untuk melihat sejauh mana respon umat, kemudian menyiapkan strategi-strategi lain yang jauh lebih halus namun mematikan. Figur mereka dianggap sebagai pembaharu, namun sesungguhnya merekalah pengkhianat Islam. Mereka dengan penuh kerelaan memposisikan dirinya sebagai kaki tangan para penjajah dan segala aktivitasnya dilangsungkan dalam rangka memelihara kepentingan-kepentingan tuannya.

Adapun narasi menghidupkan kembali bioskop Aceh patut dipandang sebagai upaya liberalisasi Islam di Aceh. Menarik sekali menyimak media-media nasional mengulas wacana pembangunan kembali bioskop di Aceh hampir sepanjang 2019. Media sekelas CNNIndonesia  telah beberapa kali mengulasnya. Tak ketinggalan Ketua Fraksi PAN di DPRA Aceh,  Asrizal Asnawi pernah menyuarakan dukungannya pada tahun 2018 lalu. Dukungan yang sama juga mengalir dari seniman Aceh, Fauzan Banta. Ia bahkan mengusulkan pembangunan bioskop Islami di Aceh.

Wakil Ketua MPU Aceh, Teungku H. Faisal Ali telah menjawab propaganda ini. Beliau meragukan kehadiran bioskop berkonsep Islami karena mengkhawatirkan di tengah perjalanan nantinya, pengawasan dan penerapan Islami tidak dijalankan sebagaimana mestinya. Tentu saja keputusan ini patut diapresiasi, faktanya bioskop memang tidak dibutuhkan di Aceh.

Pemerintah Kota Banda Aceh beberapa waktu lalu menyatakan akan mempertimbangkan kemungkinan pembukaan kembali bioskop di Aceh. Untuk mempelajari regulasi bioskop di negara lain, pemkot Banda Aceh menyampaikan akan melakukan studi banding ke Arab Saudi atau negara Islam  lainnya. Gagasan ini tentu sangat disayangkan, pemerintah terlihat telah menelan opini yang digiring oleh media. 

Fakta bahwa aktivitas menonton bioskop adalah  budaya yang tidak Islami. Meski hukum asal menonton itu sendiri adalah mubah. Namun menyia-nyiakan waktu, menghamburkan uang, belum lagi bahaya dari konten tontonan itu sendiri adalah aktivitas yang cenderung kepada kemudharatan. Mari berhitung berapa banyak film bioskop yang mampu memenuhi ekspektasi Menag untuk membuka wawasan dan pengetahuan terhadap perkembangan dunia terkini ? 

Propaganda menghidupkan kembali bioskop Aceh ditenggarai mengandung semangat menghidupkan budaya konsumerisme yang dibawa oleh kapitalisme global untuk meraup untung dari millenials Aceh sekaligus mengubah cara pandang mereka terhadap kehidupan. Diantaranya perubahan pola konsumsi manusia dari hanya sekadar mengonsumsi apa yang menjadi kebutuhannya,  menjadi konsumtif dengan mengkonsumsi segala sesuatu yang tidak hanya berdasarkan kebutuhan, melainkan  karena gengsi demi mencapai kepuasan. Bioskop tak lagi menjadi tempat yang esensial untuk menikmati film, tetapi  telah menjadi kebutuhan baru bagi gaya hidup masyarakat modern perkotaan. Berkunjung ke bioskop dianggap sebagai sebuah kemewahan karena dianggap sebagai sebuah  tren yang wajar untuk di ikuti dan perlu untuk dipenuhi demi memuaskan ego.

Sikap Menag yang memuji semangat liberalisme Saudi Arabia kemudian menyandingkannya dengan kondisi Aceh dapat dipahami sebagai upaya Menag untuk menularkan racun sekuler yang saat ini sedang menjangkiti Saudi Arabia. Ini menjadi bukti bahwa konsep Islam rahmatan lil`alamin ala Menag perlu dikaji kembali. 

Kini pemerintah Saudi telah mencabut larangan menonton bioskop yang telah diberlakukan selama lebih dari 3 dekade. Bukan hanya bioskop, pencampuran jenis kelamin sedang di promosikan secara luas, sesuatu yang tak terpikirkan sama sekali sepuluh tahun lalu. Konser musik bisa disaksikan di sepanjang jalan di kala malam dengan wanita-wanita yang tak lagi menutup aurat. Menteri luar negeri Saudi, Pangeran Saud Al Faisal pada 14 Maret 2010 kepada New York Time mengatakan bahwa, "Arab Saudi sekarang terbebas dari belenggu masa lalu dan beranjak menuju masyarakat liberal". Kini Saudi membolehkan pasangan asing yang belum menikah sekamar di hotel-hotel dalam rangka mengembangkan pariwisata. Saudi kini sedang berjalan menuju kebinasaannya dengan menganggap Islam sebagai norma konservatif yang menghalangi kemajuan. 

Pertanyaannya, apakah Menag menginginkan Aceh mengikuti Saudi ? membuka diri ataukah menjual diri? untuk meraih materi dan kesenangan jasadi. Sejatinya ini perdagangan yang amat merugikan. Mengganti ridha Allah dengan kesenangan duniawi seraya menantang perang kepada Allah melalui ucapan-ucapan manis yang beracun.

Islam adalah aqidah yang sempurna. Islam bukan hanya sebuah agama ritual, ia adalah jalan hidup, yang memancarkan seperangkat aturan untuk mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Konsekuensi logis dari beraqidah Islam adalah tunduk dan taat pada syariah Islam. Mengharap berkah Islam rahmatan lil alamin dengan mengaplikasikan Islam parsial (sekuler) justru ibarat jauh panggang dari api. 

Rahmat Islam akan terealisir jika ia diterapkan secara kaffah (menyeluruh) bukan parsial. Konsep itulah yang telah menghantarkan peradaban Islam, Khilafah Islamiyah menjadi adidaya terlama di dunia, yaitu selama 13 abad. Peradaban mulia itu runtuh oleh satu sebab saja, sekulerisasi !

Sebelum menutup tulisan ini saya ingin mengutip pernyataan Misionaris Samuel Marinus Zwemer yang lain, "Terima kasih kepada saudara-saudara sekalian, kalian telah menyiapkan generasi yang tidak lagi menyadari adanya hubungannya kepada Allah, tidak ingin mengetahuinya, serta mengeluarkan orang Islam dari keislamannya".

Entahlah apa yang merasuki Menag, kami tak butuh bioskop Pak, cukuplah ketenangan hati dan kekuatan iman yang menghantarkan kami meniti jalan perjuangan, mengembalikan kehidupan Islam.
Bagikan:
KOMENTAR