Penulis : Leli Amaliah, S. Kom
Perkembangan era digital saat ini sangat pesat sehingga membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Termasuk pada anak-anak dalam mengisi waktu luangnya yaitu dengan game online karena sangat mudah untuk di akses dari segala usia. Namun, saat ini game online bukan hanya sekedar hiburan tapi bisa merusak cara berfikir, bersikap, dan bertindak sehingga mental generasi rusak.
Beberapa terakhir ini berita kekerasan yang melibatkan anak dan remaja sering kali muncul. Kasus perundingan, bunuh diri hingga menghilangkan nyawa terus saja bergulir. Dalam proses penyelidikan peristiwa ini terjadi dikarenakan adanya pengaruh dari game online. Salah satu fakta seperti yang terjadi pembunuhan seorang ibu yang dilakukan anaknya di Medan. Kasus ini berawal dari kecanduan game online yang membuat anak tersebut mengalami perubahan emosional yang tidak bisa mengendalikan amarah dan kehilangan rasa empati terhadap ibunya. Peristiwa ini merupakan fakta yang menggambarkan bagaimana bahayanya paparan konten kekerasan secara terus menerus dapat merusak kejiwaan anak yang dapat mendorong anak tersebut melakukan tindakan kekerasan.
Selain itu, seorang remaja yang menjadi tersangka teror bom terhadap sejumlah sekolah di Depok. Ini membuktikan tindakan kekerasan tidak hanya dilakukan karena spontanitas tetapi juga terencana. Ini menambah fakta bahwa dunia virtual termasuk platform digitalnya menjadi ruang pembentukan pola pikir dimana menganggap kekerasan sesuatu hal yang wajar, heroik bahkan membanggakan. Ditambah situs-situs game online yang terdapat konten kekerasan dapat diakses dengan sangat mudah oleh anak-anak. Alhasil tanpa pengawasan, anak terpapar adegan kekerasan dan peperangan yang berdampak langsung pada emosional, cara berfikir dan kesehatan mental. Sehingga anak menjadi impulsif, mudah marah dan kehilangan rasa empati terhadap orang sekitarnya.
Saat ini masyarakat beranggapan bahwa teknologi bersifat netral dan dampaknya tergantung terhadap yang menggunakannya. Pandangan ini merupakan pandangan yang keliru karena game online dan beberapa platform dirancang demgan tujuan tertentu yang membawa nilai-nilai tertentu. Game online bukan hanya sekedar rangkaian kode tetapi merupakan produk budaya, ideologi dan kepentingan yang siap untuk merusak generasi. Faktanya banya game online menormalisasikan kekerasan dengan memberi hadiah, poin atau nilai yang lebih tinggi jika pemain berhasil melukai, membunuh atau menghancurkan pemain lainnya. Dengan begitu akan timbul rasa puas dan bahagia atas keberhasilan tersebut. Dalam jangka panjang hal ini akan membuat cara pandang bahwa kekerasan merupakan solusi, hiburan bahkan sebuah prestasi.
Dibalik industri game online ini berdiri kuat sistem kapitalisme yang menjadikan keuntungan sebagai tujuan utama. Anak-anak dan remaja menjadi target utama dalam industri game online. Semakin aktif sebuah game maka semakin lama penggana menghabiskan waktu dan uang didalamnya. Akibatnya, terabaikannya kesehatan mental, moral dan keselamatan generasi.
Peran negara disini telah gagal dalam menyelamatkan generasi. Negara tidak tegas dalam pengawasan konten yang ada dalam game online. Sanksi yang diberikan terhadap pelanggaran tidak membuat jera. Ini membuktikan bahwa jika negara masih tunduk pada kepentingan pasar dan kapital maka perlindungan generasi masih akan terus dikorbankan.
Dalam Islam, anak dan generasi merupakan amanah yang harus di jaga. Negara dalam Islam memiliki kewajiban untuk melindungi jiwa, akal dan akhlak rakyatnya. Termasuk menjaga kerusakan yang hadir dari digitalisasi. Dengan membiarkan konten kekerasan beredar dalam game online itu menunjukan kelalaian dalam kewajiban melindungi rakyatnya.
Islam tidak memandang kebebasan pada nilai absolut tanpa batas. Tetapi setiap aktivitas termasuk dalam konten digital harus tunduk pada aturan yang menjadi kemaslahatan umat. Karena itu, negara wajib melakukan penyaringan terhadap konten game online secara ketat. Melarang game online yang mengandung kekerasan dan memastikan teknologi digunakan untuk kebaikan.
Islam menawarkan solusi komprehensif melalui penerapan tiga pilar utama dalam menjaga generasi. Pertama, ketakwaan individu yang membentuk kesadaran moral dan tanggung jawab pribadi. Kedua, kontrol masyarakat melalui budaya saling menasihati dan mencegah kemungkaran, termasuk di ruang digital. Ketiga, perlindungan negara yang aktif dan tegas sebagai pilar utama. Ketiga pilar ini hanya dapat berjalan efektif jika diterapkan dalam sistem politik, ekonomi, pendidikan, pergaulan sosial, dan budaya yang berlandaskan Islam.
Maraknya kekerasan yang terinspirasi game online merupakan alarm keras bagi masyarakat dan negara. Game online dengan konten kekerasan bukan sekadar hiburan, melainkan ancaman nyata bagi akal, jiwa, dan masa depan generasi. Islam menawarkan solusi menyeluruh dan berkeadilan untuk mencabut akar persoalan, demi menjaga kemanusiaan dan memastikan masa depan yang lebih aman dan bermartabat.