Oleh : Siti Rima Sarinah
Kita tentu masih ingat kisah legenda Malin Kundang, seorang anak yang dikutuk oleh ibu menjadi batu karena tidak mengakui ibunya yang miskin. Kini kisah Malin Kundang zaman now, bukan sekadar tidak mengakui ibu kandungnya tetapi dengan tragisnya tega membunuh ibu kandungnya sendiri.
Matrisida adalah tindakan pembunuhan ibu kandung yang dilakukan oleh anak laki-laki atau anak perempuan. Matrisida merupakan kasus langka yang akhir-akhir ini banyak terjadi hingga viral di media sosial. Kasus matrisida yang dilakukan oleh seorang anak berusia 12 tahun terjadi Kota Medan. Sang anak membunuh ibunya dengan 26 tusukan bersarang ditubuhnya yang mengakibatkan sang ibu meregang nyawa dan akhirnya meninggal dunia.
Pengakuan sang anak kepada pihak berwajib yang menjadi penyebab ia tega membunuh ibu kandung dengan menggunakan pisau dapur karena rasa kesal. Ibunya sering marah dan memukul kakaknya. Kemarahannya semakin.memuncak tatkala korban menghapus aplikasi game online miliknya(cnnindonesia, 30/12/2025)
Kecanduan Digital Berbahaya Bagi Generasi
Kasus matrisida yang diduga dilakukan oleh pelaku terinspirasi game online dan serial anime dengan adegan pembunuhan menggunakan pisau. Dan game Murder Mystery yang juga melakukan pembunuhan menggunakan pisau.
Mantan Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengungkapkan bahwa kasus ini seharusnya menjadi alarm keras bagi orang tua dan pemangku kepentingan untuk lebih aktif melakukan intervensi penggunaan gadget pada anak. Sebab, kecanduan gadget berdampak buruk bagi masa depan generasi dan berharap kejadian serupa takkan terulang kembali (metrotv, 03/01/2026)
Tontonan Bebas Tanpa Batas
Kasus matrisida tidak terjadi tanpa sebab. Dunia anak-anak yang sangat lekat dengan dunia digital, hingga mereka berpikir, bersikap dan berbuat sesuai arahan gadget mereka. Dunia digital banyak menawarkan berbagai macam game online yang merusak pemikiran generasi, tersebar bebas tanpa batas. Sehingga mengakibatkan anak-anak kecanduan, mudah emosi dan tantrum, apabila orang melarang atau memghapus aplikasi game online miliknya.
Kasus matrisida ini bukalah kasus baru, sebelumnya pun telah terjadi pembunuhan yang dilakukan seorang anak di Jakarta yang tega membunuh kedua orang tuanya, karena marah di suruh belajar. Akibat tayangan unfaedah inilah melahirkan generasi yang seringkali melawan dan membangkang orang tua serta mereka lebih patuh kepada gadget mereka.
Generasi Rusak, Tanggung Jawab Siapa?
Tidak dipungkiri, banyaknya gemerasi yamg kecanduan game online tak lepas dari abainya peran pemangku kekuasaan di negeri ini. Aplikasi game online dan tontonan yang berbau kekerasan, pornografi dan berbagai macam kerusakan lainnya beredar bebas, sehingga dengan mudahnya diakses oleh generasi tanpa filter.
Kebebasan dalam mengakses informasi dan kebebasan tontonan tanpa batas di sistem sekuler telah berulang kali menimbulkan permasalahan besar. Sistem pendidikan berasaskan sekularisme pun tak mampu mengatasi persoalan ini. Karena sistem pendidikan ini hanya fokus mencetak generasi materialistis, hedonis dan permissif, serta mengalami degradasi moral yang sangat parah.
Persoalan generasi saat ini seharusnya menyadarkan semua pihak, bukan hanya sekolah melainkan juga orang tua dan diperlukan kehadiran negara untuk hadir sebagai pelindung dan penjaga generasi dari berbagai macam hal yang dapat merusak akal dan mentalnya. Karena pada hakikatnya, anak-anak bisa dicetak menjadi generasi baik atau buruk dilihat dari sistem pendidikan yang mereka dapatkan mengarahkan pada tujuan tersebut sebagai outputnya atau tidak.
Oleh karena itu, generasi bangsa ini harus dikembalikan pada fitrahnya sebagai agen perubahan yang kelak bermanfaat bagi peradaban manusia serta mampu menerapkan konsep birrul walidain seorang anak. Hal ini akan terwujud tatkala generasi dididik dalam sistem pendidikan berbasis akidah Islam, yang telah terbukti mampu mencetak generasi emas hingga berabad tahun lamanya. Sehingga kita mampu mengubah sosok si Malin Kundang menjadi sosok Uwais Al Qorni, seorang anak yang sangat sayang dan hormat pada orang tuanya.