Sistem Kapitalis Gagal Riayah Pemuda


author photo

26 Feb 2026 - 11.14 WIB


Oleh: Saridah(aktivis muslimah)

Pihak kepolisian melakukan pembinaan terhadap belasan anak yang kedapatan bermain petasan di wilayah Kecamatan Muara Badak.

Dalam video yang beredar, anak-anak bermain petasan yang seharusnya diarahkan ke langit agar meledak di atas, namun mereka justru saling mengarahkan satu sama lain bahkan ke jalanan.

Kapolres Bontang melalui Kapolsek Muara Badak, Iptu Danang Wahyu Rahardika, mengatakan pihaknya menerima informasi tersebut dan mendapati 15 anak terlibat.

“Sekitar 15 anak terlibat. Mereka sudah kami lakukan pembinaan dan kami juga panggil orang tuanya,” ujarnya.-radarbontang.com

Penyebab Pemuda Melakukan Kekerasan

Keberadaan banyak kelompok atau geng remaja memang makin menjamur. Kehadiran mereka kemudian memunculkan keinginan untuk diakui eksistensinya. Oleh karena itu, sangat relevan kalau keinginan untuk eksis tersebut mereka implementasikan dalam bentuk aktivitas fisik atau nyata sebagai ajang adu kekuatan. Salah satunya dengan klitih. Hal ini disampaikan oleh kriminolog Haniva Hasna, M. Krim.

Aksi pemuda yang tidak manusiawi juga dipengaruhi oleh kesehatan mental. Frustasi dan konflik pada diri invidu yang bersangkutan menjadi pemicu nekatnya pemuda melakukan tindakan kekerasan. Ditambah lagi, pola asuh orang tua yang tidak konsisten, disiplin yang keras, kekerasan fisik, pengabaian serta kelalaian orang tua dalam pengawasan menjadikan pemuda frustasi hingga muncul agresi pada orang lain.

Di sisi lain, karakteristik lingkungan juga memengaruhi perilaku manusia. Sosiolog Puji Qomariyah, S.Sos., M.Si. mengatakan bahwa makin kapitalis suatu lingkungan maka makin materialistis dan individualistis warganya bahkan menjadi egoistis. Dari lingkungan egoistis, pemuda lebih leluasa melakukan aksi tidak manusiawi. (lldikti5.kemdikbud.go.id, 9/4/2022).

Dari sini dapat dipahami bahwa berbagai faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan jalanan. Itulah sebab, kita membutuhkan solusi sistemis, bukan sekadar memberi sanksi pada pelaku dan mengeluarkan larangan aktivitas di jalan. Lebih dari itu, dituntut peran negara guna menyolusinya.

Pemuda dalam Riayah Sistem Salah

Pemuda seharusnya menghidupkan malam Ramadan dengan amal yang istimewa, bukan malah membuat resah masyarakat dengan menimbulkan kegaduhan karena adanya klitih, tawuran, perang sarung antarkelompok pemuda, dll. Mengapa peristiwa ini terus berulang terjadi? Seolah-olah memang tidak mendapatkan perhatian serius oleh negara.

Apakah penguasa serta jajarannya begitu sangat sibuk mengurusi utang yang semakin menukik tajam hingga tembus 7.000 triliun? Atau sibuk mengumpulkan dana dari masyarakat untuk membiayai IKN? Apakah sedang disibukkan memuluskan jalan menuju kekuasaan dengan melanjutkan tiga periode kepemimpinan?

Entahlah, yang jelas kepedulian yang ditunjukkan negara terkait kekerasan jalanan oleh pemuda belum maksimal. Padahal, pemuda merupakan generasi harapan bangsa. Ketahanan keluarga yang rapuh mengakibatkan generasi dalam ancaman bahaya.

Pemuda hari ini diduga kuat berada dalam riayah sistem yang salah. Betapa tidak, sistem kapitalisme memfasilitasi tontonan merusak yang mudah diakses melalui internet. Pemuda dibiarkan memilih gaya hidup bebas tanpa aturan. Pergaulan bebas, tawuran, klitih, dan lain sebagainya menjadi budaya baru bagi pemuda.

Ditambah lagi, ketidakmampuan orang tua mendidik generasi karena kendala ekonomi. Orang tua sibuk mencukupi kebutuhan keluarga dengan bekerja hingga tidak memiliki waktu lagi mendidik generasi. Masyarakat yang tidak peduli pun turut memperparah kondisi yang ada. Sekolah hanya menjadi tempat mentransfer ilmu dan minim nilai-nilai agama (Islam) yang diamalkan untuk membentuk kepribadian para pemuda.

Pemuda Islam Antikekerasan, Pelaku Perubahan

Para pemuda semestinya menjauhkan diri dari perkara yang sia-sia. Tindakan klitih, tawuran, atau bentuk kekerasan jalanan yang lain mengantarkan pemuda pada kehancuran. Hendaknya mereka mengkaji Islam hingga memahami nilai baik-buruk, serta benar-salah berdasarkan ajaran Islam.

Para pemuda seharusnya melibatkan diri dalam dakwah mengembalikan kembali kehidupan Islam. Contohlah pemuda Kahfi dalam keteguhan keimanan mereka.

Sebagaimana firman Allah Taala, “Kami berkisah padamu mengenai cerita fantastis yang nyata. Mereka itu memang benar-benar para pemuda yang beriman pada Tuhan mereka. Kami pun menambahkan petunjuk untuk mereka. Kami meneguhkan hati mereka saat mereka berdiri, lalu mereka pun berikrar, ‘Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi, kami tidak akan pernah memohon pada selain Dia. Jika demikian, sungguh kami tela mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.’” (QS Al-Kahfi: 13—14).

Potensi pemuda sebagai pelopor perubahan harus diarahkan untuk membangun peradaban Islam, bukan disibukkan dengan aksi nekat melakukan kekerasan jalanan yang memakan korban. Imam Syafi’i pernah berkata, “Hidupnya seorang pemuda adalah dengan ilmu dan takwa.” 

Dengan ilmu dan takwa diharapkan mereka menjadi aset bangsa, pelaku perubahan bagi negara menjadi lebih baik.

Namun, pemuda yang diharapkan seperti di atas tidak lahir dari sistem kapitalisme, melainkan lahir dari rahim sistem Islam. Sebelum Islam kembali hadir di tengah-tengah umat, apa yang harus kita lakukan? Tetap istikamah mendakwahkan Islam, mengajak berbagai elemen masyarakat untuk memperjuangkannya. Meminta pada penguasa agar aturan Islam yang diterapkan dalam negara bukan demokrasi.

Khatimah

Begitu luar biasa perhatian Islam pada pemuda. Kita mengetahui sejarah emas kegemilangan Islam diukir oleh para pemudanya. Abdurrahman an-Nashir dari Kekhilafahan Umayyah menjadi pemimpin pada usia 22 tahun. Andalusia pun mencapai puncak keemasan pada masanya. Di bidang militer dan pemerintah, sosok Muhammad al-Fatih, Umar bin Abdul al-Aziz, dan Salahuddin al-Ayyubi menjadi perhatian dunia karena keistimewaan mereka.

Semua itu merupakan hasil dari pembinaan Islam dan didukung oleh lingkungan kondusif dengan nilai ruhiyah yang tinggi. Sementara hari ini, pemuda dalam riayah sistem sekuler kapitalisme, lingkungan yang serba bebas tanpa aturan. Nilai materi yang mendominasi sehingga lahir generasi alay dan “generasi stroberi”. Pemuda yang rapuh maka mudah menyerah dan gampang sakit hati.

Semoga Islam segera kembali menaungi dunia sehingga para pemuda akan kembali berkiprah dalam kancah kehidupan dengan prestasi gemilang. Sebab, para pemuda dalam Khilafah merupakan aset negara pengisi peradaban, bukan sampah peradaban sebagaimana pengurusan sistem kapitalis pada mereka. Wallahualam.
Bagikan:
KOMENTAR