Kembalikan Peran Masjid Sebagaimana di Masa Rasulullah


author photo

1 Mar 2026 - 19.35 WIB




Emirza Erbayanthi, M.Pd
(Pemerhati Sosial)

Kementerian Agama Kota Samarinda mendorong penguatan tata kelola masjid yang profesional dan berbasis data melalui kegiatan sosialisasi perwakafan dan kemasjidan. Masjid juga didorong untuk kembali pada fungsi idealnya sebagaimana di masa Rasulullah SAW, yakni sebagai pusat ibadah, pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan sosial. 

Mulai dari takmir, dai, remaja masjid hingga jamaah perlu memiliki cara pandang yang moderat, toleran, dan inklusif, sehingga masjid menjadi ruang yang nyaman dan terbuka bagi semua kalangan. Selain itu, optimalisasi dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ziswaf), dukungan CSR, serta pengelolaan aset Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) diarahkan untuk menjadikan masjid lebih mandiri secara finansial dan mampu berkontribusi dalam pemberdayaan ekonomi umat. 

Melalui kegiatan ini, Kementerian Agama Kota Samarinda menegaskan komitmennya untuk terus mendorong pengelolaan masjid yang profesional, moderat, dan berdaya guna, sehingga masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat penguatan keimanan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat. (https://kemenagsamarinda.id/berita/dari-pendataan-ke-pemberdayaan-penguatan-kemasjidan-dan-perwakafan-di-samarinda-ulu)

Mengembalikan Peran Masjid

Sekilas mengembalikan peran masjid sebagaimana di masa Rasulullah terlihat positif. Namun karena dibumbui moderasi dan dimanfaatkan untuk ambil alih kewajiban negara menjadikan peran masjid jauh dari yang sebenarnya. Peran masjid diarahkan untuk sejalan dengan visi misi sekuler.

Semua elemen masjid mulai dari takmir sampai marbot masjid perlu memiliki cara pandang moderat, toleran dan inklusif bukannya menguatkan keimanan sebagaimana di masa Rasulullah justru mengaburkan keimanan. Masjid di masa Rasulullah tidak hanya berkenan dengan ibadah tapi juga pemerintahan. 

Sebelumnya masjid ditakuti akan radikal, penceramahnya pun diawasi. Kini masjid tidak ketinggalan dalam arus moderasi dan pemberdayaan ekonomi artinya memang umat Islam dibidik agar tidak bangkit, titik awalnya ada perang pemikiran paradigma.

Selain itu masjid juga sering direduksi hanya sebagai ruang ibadah ritual seperti shalat, dzikir, dan kajian rutin. Padahal pada masa Rasulullah ﷺ, fungsi masjid jauh lebih luas dan fundamental. Masjid bukan sekadar tempat rukuk dan sujud, melainkan pusat peradaban yang menggerakkan seluruh kehidupan umat. 

Peradaban adalah perwujudan konkret dari landasan akidah pada seluruh sektor kehidupan. Peradaban Islam lahir ketika nilai tauhid teraktualisasi dalam pendidikan, sosial, ekonomi, politik, kesehatan, pertahanan, dan seluruh dimensi kehidupan seorang muslim. 

Dari kerangka ini dapat dipahami bahwa peradaban bukan semata infrastruktur atau capaian teknologi. Maka kita perlu mengembalikan peran masjid yang sesungguhnya seperti pada masa Rasulullah. Dimana masjid tidak hanya berkenan dengan ibadah tapi juga pemerintahan.

Masjid di Masa Rasulullah 

Islam adalah pandangan hidup dan tata kelola masyarakat yang bersumber dari keyakinan. Pada masa Rasulullah ﷺ, pusat dari peradaban berawal di Masjid Nabawi. Masjid menjadi dasar tempat kehidupan umat yang diarahkan berdasarkan manhaj nabawi dan syariat Islam.

Di bidang tarbiyah, Masjid Nabawi berfungsi sebagai ruang pembinaan iman dan ilmu. Para sahabat halaqah, belajar langsung dari Rasulullah ﷺ, dan mendapatkan nasihat di masjid. Masjid bukan ruang singgah untuk belajar lalu pulang, melainkan institusi pembentuk karakter dan tempat tumbuhnya generasi yang baik secara intelektual dan spiritual.

Di bidang kesehatan, masjid berperan sebagai pusat penanganan darurat. Ketika terjadi peperangan, para pejuang yang terluka dirawat di Masjid Nabawi. Fakta ini menunjukkan bahwa masjid memberi ruang kesehatan dan tidak membatasi fungsinya hanya pada satu ranah.

Di bidang bidang militer, masjid menjadi pusat konsolidasi dan perencanaan strategi. Rasulullah ﷺ mengumpulkan para sahabat sebelum berangkat berperang, menyusun taktik, dan menguatkan mental umat dari dalam masjid. Hal ini menunjukkan bahwa pertahanan tidak dilepaskan dari nilai spiritual, tetapi justru bertumpu pada aqidah sebagai sumber kekuatan.

Di bidang pemerintahan dan sosial, masjid berfungsi sebagai balai musyawarah, forum diplomasi, ruang penyelesaian masalah publik, hingga kantor pelayanan masyarakat. Delegasi dari berbagai kabilah menemui Rasulullah ﷺ di masjid. 

Di bidang sosial ditangani di masjid. Kebijakan dibicarakan bersama para sahabat. Secara fungsional, masjid pada masa Rasulullah ﷺ merupakan balai kota, pusat komunikasi, sekaligus kantor pemerintahan umat. Di era teknologi sekarang, peluang untuk menghidupkan kembali fungsi peradaban masjid juga semakin besar. 

Digitalisasi manajemen, transparansi keuangan, aplikasi zakat-infak-wakaf, serta penguatan tata kelola takmir dapat mempercepat pelayanan jika dirancang secara profesional. Ada Masjid yang dikenal karena pengelolaannya yang tidak menumpuk dana di kas, melainkan mengembalikannya kepada masyarakat. 

Program sosial masjid berjalan aktif, fasilitas ibadah terawat, dan jamaah merasakan pelayanan yang hadir dalam keseharian. Masjid menjadi mitra masyarakat, bukan sekadar bangunan ritual. Takmir diikutkan pelatihan untuk menekankan pengelolaan digital, pemetaan kebutuhan jamaah, hingga penyusunan program sosial yang berkelanjutan. 

Semua itu bertujuan mengembalikan masjid pada fungsi aslinya sebagai pusat pembinaan, pelayanan, dan pemberdayaan umat. Apabila masjid kembali dihidupkan sebagaimana pada masa Rasulullah ﷺ, umat akan terbiasa berkumpul, bersinergi, memperkuat ukhuwah, dan bekerja dalam arah yang sama. 

Pada titik ini, masjid bukan lagi struktur fisik, melainkan pusat kekuatan kolektif umat, selaras dengan firman Allah:
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam satu barisan, seakan-akan mereka suatu bangunan yang tersusun kukuh.” (Q.S. As-Shaff: 4)

Ayat ini menegaskan pentingnya kerapian barisan dan kesatuan langkah. Islam tidak bangkit hanya oleh semangat individu yang terpisah-pisah, tetapi oleh jamaah yang bersatu dalam satu visi dan saf yang kokoh. Semua itu sangat mungkin dimulai dari tempat yang sering dipahami secara sempit sebagai tempat ibadah saja.

Saatnya di bulan Ramadhan kita makmurkan masjid, berbagai kegiatan umat Islam berpusat di masjid hendaknya menyadarkan kita akan pentingnya masjid untuk kebangkitan umat Islam. Masjid tidak hanya terkait dalam hal ibadah tapi juga mercusuar pemikiran Islam. Sehingga dari masjid, Islam kembali memimpin dunia. Wallahualam.
Bagikan:
KOMENTAR