(Oleh : Juliana Najma, Pegiat Literasi)
Pelaksanaan hari raya Idul Fitri 1446 H di wilayah Palestina berlangsung dalam suasana duka dan keprihatinan mendalam akibat blokade serta agresi militer Israel yang terus berlanjut. Di Jalur Gaza, puluhan ribu warga melaksanakan salat Id di atas reruntuhan masjid yang hancur dan di area terbuka dekat kamp pengungsian, dengan lantunan takbir yang bergema di tengah kehancuran infrastruktur. Krisis kemanusiaan semakin parah karena sebagian besar keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan dan air bersih, sementara bantuan internasional yang masuk sangat terbatas akibat pembatasan ketat di pintu perbatasan.
Kondisi serupa terjadi di wilayah Tepi Barat dan Yerusalem, di mana otoritas penjajah Israel memberlakukan pembatasan akses yang sangat ketat bagi umat Muslim untuk beribadah. Di Hebron, ribuan jamaah dilarang memasuki Masjid Ibrahimi sehingga mereka terpaksa melaksanakan salat di jalanan, sementara di Yerusalem, akses ke Masjid Al-Aqsa ditutup yang memicu warga untuk menggelar sajadah di luar tembok Kota Tua. Meskipun dirayakan tanpa sukacita dan di bawah pengawasan militer zionis Yahudi, warga Palestina tetap teguh menjalankan ibadah di momen idul Fitri di tengah penindasan dan isolasi yang berkepanjangan.
Ironi Hegemoni dan Pudarnya Solidaritas untuk Gaza
Penderitaan warga Gaza kian terpinggirkan dari perhatian dunia seiring dengan pergeseran fokus Amerika Serikat dan Israel yang kini lebih mengutamakan konfrontasi militer terhadap Iran. Ironisnya, sejumlah negara Arab di kawasan Teluk justru terlihat lebih memilih bersekutu dengan kekuatan Barat dalam membendung pengaruh Iran, sementara nasib saudara seiman di Palestina yang sedang terjepit blokade dan kehancuran seolah terlupakan. Agenda perdamaian serta kemerdekaan Palestina bukan lagi menjadi prioritas utama bagi AS dan Israel, karena kedua negara tersebut lebih terobsesi pada upaya menjaga hegemoni kekuasaan dan dominasi politik mereka di panggung global.
Kondisi mengenaskan yang menyelimuti perayaan Idul Fitri di Gaza tahun ini seharusnya menjadi pengingat pahit bagi seluruh umat Islam di dunia. Sebagai satu tubuh yang saling merasakan sakit, nestapa warga Gaza adalah duka kolektif yang semestinya menggerakkan aksi nyata melampaui kepentingan politik sempit. Selama fokus dunia masih teralihkan oleh perebutan kekuasaan dan aliansi strategis yang mengabaikan aspek kemanusiaan, maka keadilan bagi Palestina akan terus tertunda di tengah ketidakpedulian bangsa-bangsa yang seharusnya menjadi pembela mereka.
Ukhuwah dan Urgensi Kesatuan Kepemimpinan Islam
Al-Qur'an secara eksplisit memerintahkan umat Islam untuk membangun fondasi kasih sayang dan sikap lemah lembut terhadap sesama Muslim, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Fath ayat 29,"Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka, ampunan dan pahala yang besar."
Prinsip Ukhuwah Islamiyah ini bukan sekadar ikatan emosional, melainkan kewajiban syariat yang mengikat seluruh umat di dunia untuk saling melindungi dan membebaskan saudara mereka dari penderitaan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 10, "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara," yang diperkuat oleh hadis Nabi SAW bahwa "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut merasakan tidak bisa tidur dan demam." (HR. Muslim No. 2586 dan Bukhari No. 6011)
Kekuatan persaudaraan inilah yang menjadi modal utama dalam menjalankan perintah jihad untuk melawan penindasan dan menghadapi kekufuran yang menyerang kedaulatan umat, sebagaimana seruan-Nya dalam Surah At-Taubah ayat 123, "Wahai orang-orang yang beriman! Perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas (keras) darimu, dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa."
Namun, kewajiban jihad dan perlindungan terhadap umat hanya dapat terwujud secara sempurna apabila negeri-negeri Muslim bersatu di bawah satu kepemimpinan yang mengikuti manhaj kenabian (Khilafah ala minhajinnubuwah). Tanpa adanya institusi politik yang menyatukan kekuatan umat, perintah untuk berpegang teguh pada tali agama Allah secara berjamaah (QS. Ali Imran: 103) akan sulit terimplementasi secara politis dan militer di kancah global. Keberadaan seorang pemimpin (Imam) sangat krusial, sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: "Sesungguhnya Al-Imam (Kepala Negara) itu laksana perisai, di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya" (HR. Muslim).
Dengan kesatuan komando inilah, kemuliaan Islam dapat ditegakkan dan penderitaan kaum Muslimin di berbagai belahan dunia dapat diakhiri secara sistematis melalui kekuatan yang terorganisir. Semoga denyut ukhuwah Islamiyyah segera menjelma menjadi perisai baja, mengakhiri musim gugur kemanusiaan di bumi para nabi dengan fajar kepemimpinan yang menyatukan dunia. Allahumma ahyinawaamitna bil Islam.*