‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Nestapa Idul Fitri di Gaza


author photo

28 Mar 2026 - 19.36 WIB


Idul Fitri bagi warga Gaza Palestina masih seperti tahun-tahun kemarin. Sejak serangan brutal oleh Zionis pada 7 Oktober 2023, kehidupan warga Gaza tak pernah dalam kondisi baik-baii saja. Hingga hari ini, lebih dari 2,4 juta warga Gaza masih merayakan idul fitri di tengah krisis multidimensi yang begitu parah, kehilangan keluarga, kehancuran infrastruktur, kurangnya pasokan pangan, air dan obat-obatan. Bantuan yang lambat, pengawasan dan pembatasan yang diperketat semakin memperparah kondisi warga. Mereka tinggal dalam tenda-tenda darurat dengan blokade yang masih terus berlangsung. Wajar jika dalam suasana idul fitri, seolah tiada lagi sukacita bagi mereka. Terlebih, pasukan Israel telah melakukan lebih dari 2000 pelanggaran kesepakatan gencatan senjata sejak Oktober 2025.

Pada Idul Fitri kali ini, Jumat, 20/03/2026 puluhan ribu warga Palestina melaksanakan sholat di sepanjang jalur Gaza di area terbuka dekat kamp-kamp pengungsian. Mereka sholat di atas puing-puing dekat mesjid yang hancur akibat serangan Zionis Israel. Sementara itu, menurut laporan kantor berita Palestina, WAFA, pasukan Israel melakukan pembatasan masuk bagi warga Palestina yang hendak sholat di Mesjid Ibrahimi, di Kota Hebron, wilayah tepi barat yang kini diduduki. Mesjid tersebut sempat ditutup Israel selama 14 hari dan kini dibuka kembali. Akan tetapi mereka melakukan pembatasan, yakni hanya sekitar 50 orang jamaah saja yang diijinkan masuk untuk sholat Idul fitri. (minanews.net, 20/03/2026)

Begitulah adanya, akibat ketiadaan kepemimpinan ideologis di dunia semakin menjadikan para penjajah berbuat semena-mena terhadap manusia, khususnya kaum Muslim. Sementara sistem kapitalisme yang masih diterapkan oleh negara-negara saat ini semakin membuka lebar pintu penjajahan dan eksploitasi oleh negara adidaya seperti Amerika, juga Israel sebagai sekutunya. Disamping itu, wajah-wajah para pemimpin muslim di berbagai negeri masih ditutupi oleh topeng kemunafikan. Mereka menutup mata atas kezhaliman dan penjajahan yang dilakukan Israel atas Palestina. Atas nama nasionalisme yang terus digaungkan oleh sistem kapitalisme, maka para pemimpin Muslim tak ubahnya saudara yang tega menyerahkan nyawa saudaranya sendiri. Mereka disibukkan dengan persoalan individu dan urusan domestik masing-masing negara, bahkan beberapa pemimpin Muslim justru bergandengan tangan dengan penjajah atas nama kerjasama demi keuntungan sementara. 

Sungguh, kekejian yang dilakukan oleh Israel, dan ketidakpedulian para pemimpin Muslim atas penderitaan warga Gaza adalah bukti bahwa umat Islam saat ini membutuhkan pemimpin ideologis yang akan menyatukan kaum muslimin dan memberi komando untuk melakukan jihad melawan penjajah karena jihad adalah kewajiban. Kesadaran untuk melakukan jihad ini harus dilandasi oleh akidah Islam. Jihad ini akan sempurna pelaksanaannya jika berada di bawah satu komando seorang pemimpin yang disebut khalifah. Oleh karena itu hadirnya khalifah dalam sistem khilafah adalah sebuah kewajiban yang bersifat darurat untuk membebaskan manusia dari segala bentuk penjajahan.
Bagikan:
KOMENTAR