Oleh : Evi Fitriani, S. Pd
Aksi masyarakat bertajuk “Indonesia Ironi, Kaltim Jadi Anak Tiri – Menuju Kemerdekaan 100%” telah diselenggarakan pada hari Kami (3/9/2026) di Simpang 3 Kinibalu. Aksi ini diikuti sekitar 21 organisasi mahasiswa dan juga elemen masyarakat, ratusan partisipan yang menuntut keadilan untuk rakyat Kaltim. Tuntuan dibagi menjadi 7 tuntutan nasional dan 8 tuntutan daerah. Salah satunya penetapan bencana nasional di sejumlah wilayah.
Berbagai reaksi masyarakat nampak dalam menyampaikan kekecewaannya. Bagaimana masyarakat kurang dalam memperoleh kesejahteraan yang layak padahal Kaltim kaya akan SDAE. Terlihat bahwa benih krisis kepercayaan antara rakyat dan penguasa mulai hilang. Penguasa terlihat hanya mementingkan kepentingannya tanpa melihat nasib kehidupan rakyatnya.
Walaupun tuntutannya masih bersifat pragmatis, dan belum menyentuh ke akar permasalahan. Namun salah satunya tentang Solusi Karhutla yang di tetapkan sebagai bencana nasional. Penguasa tidak bisa menyelesaikan permasalahan ini dengan serius, melihat banyaknya dampak yang di rasakan oleh masyarakat. Bahkan bukan hanya sekedar manusia yang berdampak, namun juga berdampak pada kerusakan ekosistem hutan dan makhluk hidup didalamnya. Ini menandakan bahwa penguasa tidak bisa menyelesaikan problem yang ada.
Kacau dari segala sisi, dari pengelolaan hutan hingga tidak adanya tindakan tegas terhadap pelaku yang terlibat didalam kebakaran hutan tersebut. Bahkan nyaris tak terlihat siapa dibalik kejadian ini. Hal ini jelas menuai pro dan kontra di Tengah-tengah masyarakat. Masyarakat seolah tidak mendapatkan titik temu dari permasalahannya. Ditambah masyarakat yang berupaya untuk bersuara namun dianggap hanya sebagai angin lalu saja.
Jika saat ini kita melihat bahwa penguasa tidak dapat menyelesaikan masalah hingga ke akar masalahnya , maka menandakan ada sesuatu di balik kebijakan-kebijakan yang di buat oleh penguasa itu sendiri. Ya, penguasa hari ini hanya pro kepada pemilik modal untuk melancarkan kepentingannya.
Hal yang tak asing dalam sistem kapitalisme, pemilik modal yang akan berkuasa dan menjadikan peran negara hanya sebagai fasilitator. Penguasa tak benar-benar dalam mengurus rakyat, karena dalam negara yang menerapkan ideologi kapitalisme menjadikan negara hanya bertujuan mencari keuntungan sebesar-besarnya.
Di dalam kitab nizhomul Islam karya Taqiyuddin An-nabhani dijelaskan bahwa ideologi kapitalisme yaitu sekulerisme adalah ideologi yang mengharuskan pemisahan agama dari kehidupan. Bahwa pengurusan kehidupan saat ini tidak diatur dalam agama, akhirnya membuat kebebasan dalam hal kebebasan pemilikan, kebebasan berperilaku, kebebasan berpendapat dan kebebasan yang lain atur oleh manusia dan menjadi dasar bagi masyarakat saat ini perbuat. Sehingga membuat manusia ikut campur dalam pengaturan kehidupan. Maka sudah dapat dipastikan kerusakan dalam segala hal.
Islam memiliki pandangan bahwa sumber energi termasuk di antara kepemilikan umum yang seharusnya dikelola oleh negara untuk kemaslahatan rakyat, bukan untuk swasta. Sebagaimana Rasululllah SAW bersabda dalam Hadist yaitu "Kaum muslimin (atau manusia) berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api." (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).
Air disini adalah Sumber air untuk kebutuhan hidup, minum, dan pengairan yang tidak boleh dimonopoli secara pribadi jika menghalangi hak orang lain. Padang rumput yaitu sumber daya alam seperti halnya hutan. Dan api yaitu sumber energi (seperti bahan bakar, minyak, listrik, atau sumber panas/penerangan) yang dibutuhkan bersama oleh masyarakat.
Dalam hal menyelesaikan segala permasalahan yang terjadi saat ini, kita membutuhkan individu yang bertakwa untuk sadar akan kepeduliannya terhadap lingkungan. Individu yang bertakwa akan menjadikan manusia menjadi berhati-hati dalam bertindak, karena berapa banyak kerusakkan di negeri ini sebab tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab. Sebagai mana dalam firman Allah dalam surah Ar-Rum ayat 41 yaitu “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.
Akan tetapi tidak cukup individu bertaqwa , juga ada peran penting masyarakat yang saling amar ma’ruf nahi mungkar yang peduli terhadap kerusakan, kezhaliman yang terjadi saat ini. Masyarakat yang mengimplementasikan Surah Ali-Imron ayat 104 yaitu “Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung”.
Akan menjadi sempurna ketika negara hadir secara utuh yang dengan negara akan menerapkan Islam secara kaffah. Menjadi penjaga untuk seluruh alam semesta ini. Penguasa yang memastikan kebutuhan rakyat, yang menjadi pelindung (junnah) dan pengurus (rain) terhadap rakyatnya.
Tergambar bahwa Islam begitu sempurnanya dalam mengatur kehidupan. Dan bahwa pangkal ketidakadilan hari ini adalah karena di terapkannya ideologi kapitalisme yang tidak pro rakyat dan maka sudah semestinya kita ganti dengan sistem yang menerapkan ideologi Islam yang mensejahterakan rakyat, yang menjadi Rahmat bagi seluruh alam. Maka sudah saatnya kita mengganti sistem ini dengan sistem yang menerapkan Islam secara kaffah dalam bingkai Khilafah Islamiyah. Wallahu a’lam bishwab.