Maulid Nabi: Jangan Berhenti pada Selawat, Teladani Perjuangannya


author photo

8 Sep 2026 - 10.11 WIB




Oleh: Wulan Safariyah
(Aktivis Dakwah Muslimah Balikpapan)

Setiap kali Rabiulawal tiba, kecintaan umat Islam kepada Rasulullah SAW kembali bergema. Masjid dan majelis dipenuhi lantunan selawat, tabligh akbar digelar, pawai dan berbagai kegiatan untuk memperingati Maulid Nabi pun semarak di berbagai daerah.

Semua itu tentu menjadi ekspresi kecintaan umat kepada manusia mulia yang membawa risalah Islam. Namun, ada satu pertanyaan yang semestinya tidak boleh luput: apakah kecintaan kepada Rasulullah SAW cukup dibuktikan dengan selawat dan mengenang akhlaknya, ataukah harus diwujudkan pula dengan mengikuti risalah dan perjuangan yang beliau bawa?

Pertanyaan ini penting agar Maulid tidak berhenti sebagai peristiwa tahunan yang menggugah emosi sesaat, lalu kembali hilang ketika Rabiulawal berlalu.

Maulid yang Berhenti pada Seremonial

Fenomena peringatan Maulid yang menekankan selawat dan keteladanan akhlak Rasulullah SAW bukanlah sesuatu yang asing. Bahkan, pemberitaan mengenai Maulid Nabi tahun ini menunjukkan besarnya perhatian terhadap momentum tersebut.

SINDOnews, 23 Agustus 2026, memberitakan bahwa Kementerian Agama mengajak 1.781.945 umat Islam mengikuti Gema Selawat Kebangsaan dalam rangka menyambut Rabiulawal 1448 H. Kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus meneladani akhlak beliau dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Sementara itu, RRI pada 22 Agustus 2026 mengangkat Maulid sebagai momentum menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW dan meneladani akhlak beliau. Dalam pemberitaan tersebut, kecintaan kepada Nabi ditekankan agar tidak berhenti pada peringatan, melainkan diwujudkan melalui kejujuran, amanah, kesabaran, kasih sayang, dan kepedulian terhadap sesama.

Tentu, meneladani akhlak Rasulullah SAW merupakan bagian penting dari kecintaan kepada beliau. Namun, apakah keteladanan Rasulullah SAW hanya berhenti pada akhlak personal?

Di sinilah persoalannya. Rasulullah SAW bukan hanya seorang pribadi yang memiliki akhlak agung. Beliau adalah Rasul yang membawa risalah Islam secara utuh. Beliau mendakwahkan tauhid, membina umat, mengubah cara pandang masyarakat, menghadapi berbagai bentuk penentangan terhadap dakwah, kemudian membangun kehidupan masyarakat berdasarkan wahyu Allah.

Karena itu, jika Maulid hanya dimaknai sebagai momentum untuk memperbaiki akhlak individu, sementara aspek risalah dan perjuangan Rasulullah SAW diabaikan, maka makna keteladanan tersebut menjadi sangat sempit.

Cinta kepada Rasulullah SAW Harus Melahirkan Ittiba'

Allah SWT berfirman:
"Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian."
(QS. Ali Imran: 31)
Ayat ini menunjukkan bahwa cinta bukan sekadar perasaan. Cinta kepada Rasulullah SAW memiliki konsekuensi berupa ittiba', yakni mengikuti beliau.

Maka, pertanyaan pada momentum Maulid bukan hanya, “Sudahkah kita mencintai Rasulullah?” Tetapi juga, “Sudahkah kita mengikuti beliau?”
Jika Rasulullah SAW mengajarkan tauhid, apakah kehidupan kita telah menjadikan Allah sebagai satu-satunya Zat yang berhak disembah dan ditaati?
Jika Rasulullah SAW membawa Islam sebagai risalah yang mengatur seluruh aspek kehidupan, apakah kita memahami Islam hanya sebagai ibadah ritual dan perbaikan akhlak semata?
Jika Rasulullah SAW melakukan perubahan terhadap masyarakat jahiliah, apakah kita juga memiliki kesadaran untuk memperbaiki berbagai persoalan kehidupan dengan petunjuk Islam sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah SAW?
Inilah makna Maulid yang lebih mendalam, yaitu ittiba' kepada Rasulullah SAW.

Meneladani Rasulullah SAW bukan hanya mencintai pribadi beliau, melainkan juga memahami dan mengikuti risalah yang beliau bawa. Artinya, membangun komitmen untuk memperjuangkan nilai-nilai Islam secara istiqamah, tidak tunduk pada intimidasi, godaan, maupun kompromi yang bertentangan dengan syariat Allah.

Senantiasa bersabar dan meyakini bahwa kemenangan serta pertolongan Allah SWT akan datang pada waktu yang telah Dia tetapkan. Inilah karakter para pewaris perjuangan para nabi: menjadikan iman sebagai kompas, kesabaran sebagai bekal, dan pertolongan Allah sebagai sumber optimisme sepanjang zaman.

Hari ini umat Islam menghadapi persoalan yang semakin kompleks. Materialisme, hedonisme, individualisme, liberalisme, dan orientasi kehidupan yang sangat duniawi telah memengaruhi cara manusia menentukan benar dan salah, baik dan buruk, serta tujuan hidup.

Dalam Islam, manusia tidak diciptakan sekadar untuk mengejar kesenangan dunia. Allah SWT berfirman:
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Penghambaan kepada Allah bukan hanya diwujudkan melalui salat, puasa, zakat, dan ibadah individual. Islam juga memiliki panduan mengenai kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, politik, hukum, keamanan, dan berbagai aspek kehidupan manusia.

Karena itu, ketika kehidupan dipisahkan dari nilai dan petunjuk agama, persoalan yang muncul tidak cukup diselesaikan hanya dengan seruan moral. Korupsi tidak cukup dilawan dengan slogan kejujuran. Kemiskinan tidak cukup dijawab dengan imbauan kesabaran. Kerusakan moral tidak cukup diatasi dengan ceramah akhlak. Kezaliman tidak cukup diselesaikan dengan ajakan menjadi manusia baik.

Diperlukan perubahan pada cara pandang dan tata kehidupan yang menjadi akar berbagai persoalan. Di sinilah umat perlu kembali mempelajari bagaimana Rasulullah SAW melakukan perubahan.

Meneladani Rasulullah SAW Bukan Berarti Menyalin Masa Lalu

Meneladani Rasulullah SAW bukan berarti sekadar mengulang bentuk-bentuk aktivitas masyarakat Arab pada masa beliau. Yang harus dipelajari adalah risalah, prinsip, dan metode dakwah yang beliau tempuh.

Rasulullah SAW memulai dakwah dengan membangun pemahaman dan kepribadian para sahabat. Beliau menanamkan akidah yang kokoh, membentuk pola pikir Islam, dan mengubah standar perbuatan mereka.

Dakwah kemudian berinteraksi dengan masyarakat. Rasulullah SAW menyampaikan Islam secara terang-terangan, mengajak masyarakat meninggalkan berbagai bentuk kemusyrikan dan ketundukan kepada selain Allah. Perjuangan tersebut tidak berlangsung tanpa tantangan. Penolakan, tekanan, propaganda, bahkan berbagai bentuk penyiksaan harus dihadapi.

Namun, Rasulullah SAW tidak mengubah prinsip dakwah hanya demi mendapatkan penerimaan masyarakat. Dari sini kita dapat melihat bahwa perubahan yang dibawa Rasulullah bukanlah perubahan kosmetik. Bukan sekadar mengganti perilaku sebagian individu, melainkan membangun masyarakat dengan landasan akidah dan syariat Islam.

Saatnya Maulid Menjadi Momentum Perubahan

Kecintaan kepada Rasulullah SAW semestinya melahirkan kerinduan untuk memahami seluruh risalah beliau. Jangan sampai kita menangis ketika mendengar kisah perjuangan Rasulullah SAW, tetapi tidak tertarik mempelajari bagaimana beliau memperjuangkan Islam.

Jangan sampai lisan kita penuh selawat, tetapi kehidupan kita justru semakin jauh dari aturan yang beliau bawa. Jangan sampai kita mengaku mencintai Rasulullah SAW, tetapi ketika Islam berbicara tentang kehidupan masyarakat, ekonomi, pendidikan, hukum, maupun pemerintahan, kita merasa bahwa semua itu berada di luar agama.

Inilah saatnya Maulid dikembalikan sebagai momentum muhasabah umat. Bukan untuk mempertentangkan antara selawat dan perjuangan. Bukan pula untuk mengecilkan pentingnya akhlak. Justru akhlak, ibadah, dan perjuangan harus ditempatkan sebagai bagian dari kesempurnaan pengamalan Islam.

Meneladani Metode Perjuangan Rasulullah SAW

Dalam perspektif dakwah yang menjadikan sirah Rasulullah SAW sebagai rujukan, perjuangan beliau di Makkah dapat dipelajari melalui proses pembinaan individu, interaksi dengan masyarakat, dan perjuangan untuk menghadirkan kehidupan yang tunduk kepada hukum Allah.

Tahap pertama adalah tatsqif, yakni pembinaan dengan akidah dan pemikiran Islam.Tahap kedua adalah tafa'ul ma'al ummah, yakni berinteraksi dengan umat untuk membangun kesadaran mereka terhadap Islam dan berbagai persoalan kehidupan. Tahap ketiga adalah istilamul hukmi, yakni penerimaan kekuasaan untuk menerapkan Islam secara menyeluruh. 

Dalam kajian sirah, proses perubahan tersebut menunjukkan bahwa perubahan masyarakat tidak dibangun secara instan. Perubahan membutuhkan pembinaan pemikiran, penguatan akidah, interaksi dengan masyarakat, serta tumbuhnya kesadaran untuk menjadikan Islam sebagai pedoman kehidupan.

Karena itu, perjuangan memperbaiki keadaan tidak boleh kehilangan metode dan tujuan. Keinginan melakukan perubahan harus dibangun di atas pemahaman Islam yang benar, bukan sekadar pergantian figur atau perubahan kebijakan sesaat.

Perubahan yang ditempuh Rasulullah SAW juga bukanlah jalan kekerasan atau pemaksaan, melainkan dakwah, pembinaan pemikiran, keteguhan dalam menyampaikan kebenaran, dan perubahan kesadaran umat.

Allah SWT berfirman:
"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam."
(QS. Al-Anbiya: 107)

Rasulullah SAW diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Maka, risalah yang beliau bawa bukan sekadar cerita sejarah yang dikenang setiap Rabiulawal. Ia adalah risalah yang harus dipahami, diyakini, dan diamalkan.

Karena itu, semarak Maulid semestinya tidak hanya terlihat dari panjangnya rangkaian selawat, ramainya tabligh akbar, atau meriahnya pawai. Ukuran keberhasilannya justru terletak pada apa yang terjadi setelah Maulid berlalu.
Apakah kita semakin mengenal risalah Rasulullah SAW?
Apakah kita semakin tunduk kepada aturan Allah?
Apakah kita semakin peduli terhadap persoalan umat?
Apakah kita semakin bersungguh-sungguh memperbaiki kehidupan berdasarkan petunjuk Islam?

Jika jawabannya belum, mungkin sudah saatnya kita bertanya kembali tentang makna cinta kepada Rasulullah SAW. Sebab, mencintai Rasulullah SAW bukan hanya mengagumi perjalanan hidupnya. Mencintai beliau berarti berusaha mengikuti risalahnya, meneladani perjuangannya, dan menjadikan Islam sebagai pedoman kehidupan.

Dengan demikian, jangan biarkan Maulid berlalu hanya meninggalkan gema selawat. Jadikan Maulid sebagai titik balik: dari sekadar mencintai Rasulullah SAW menjadi sungguh-sungguh meneladani risalah dan perjuangan beliau.

Wallahu a'lam bishawab.
Bagikan:
KOMENTAR