Pesan Maulid Nabi : Wajib mencintai Nabi, bukan pilihan


author photo

8 Sep 2026 - 13.09 WIB




Penulis : Nurul Hidayati, S. Pd
Pemerhati generasi

Maulid Nabi Muhammad SAW sebenarnya jatuh pada hari Senin, 12 Rabiul Awal pada Tahun Gajah. Dalam kalender Masehi, tanggal ini diperkirakan bertepatan dengan 20 April 571 Masehi. Dan pada tahun ini jatuh pada 25 Agustus 2026.

Kita semua sudah sering memperingatinya, namun kebanyakan hanya sebatas sermonial belaka. 

Tahun ini, Kementerian Agama ( Kemenag ) mengajak 1.781.945 umat Islam dari berbagai penjuru Indonesia untuk berselawat.

Sementara itu pada Program Mutiara Pagi RRI Pro 1 Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026, dengan tema “Momentum Bulan Maulid sebagai Bulan Peningkatan Kecintaan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam”. Acara tersebut menghadirkan Penyuluh Agama Islam KUA Tanah Abang, Muhamad Iqbal Akmaludin, S.Hum sebagai narasumber. Ia mengajak umat untuk meneladani akhlaq Nabi SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak ada yang salah dari ajakan tersebut. Hanya saja mencintai Nabi memang tidak cukup hanya dengan lisan, namun dalam seluruh tindakan. Baik perkataan, perbuatan bahkan diamnya Nabi SAW sebagai qudwah. 

Allah berfirman, 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

"Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu." (Al Baqoroh [2]: 208 ) 

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (An Nisa [4] : 65) 

Maknanya, Nabi SAW diberikan risalah untuk mengajak manusia menundukkan hati dengan proses berfikir yang mendalam dan cemerlang. Manusia diajak membuktikan sendiri keberadaan Allah sebagai Pencipta, Rasulullah SAW sebagai utusanNya dan Al Qur'an memang benar kalamullah. Dengan menghadirkan pertanyaan-pertanyaan yang bisa menguji kebenarannya. Seperti,  jika itu berkaitan dengan keberadaan Allah, kita bisa menguji melalui pertanyaan semisal  Apakah Allah itu diciptakan?,  apakah Allah menciptakan dirinya sendiri atau sesungguhnya ia azali dan wajibul wujud? Jika pada pembuktian akan kebenaran Rasul, manusia bisa dengan melihat urgensi ajarannya. Begitupun jika ingin membuktikan kebenaran Al Quran maka bisa diuji dengan pertanyaan semisal benarkan Al Quran diciptakan Muhammad?, atau bangsa Arab? Sementara, Nabi Muhammad sendiri juga bangsa Arab. Atau memang benar Al Qur'an dari Allah semata. 

Harapannya dengan proses pembuktian keimanan ini atau yang sering disebut dengan dalil aqli ditambah dalil naqli yang bersifat qothi (kuat) seperti Al Qur'an dan hadist mutawatir, disinilah lahir iman yang kokoh. Bukan sekedar warisan leluhur. 

Setelah beriman pada kebenaran Islam sebagaimana terdapat pada rukun imannya, maka selanjutnya muslim harus melangkah pada konsekuensi iman yakni terikat dalam seluruh amal perbuatannya dengan aturan Allah. 

Maka, ketika mengaku telah beriman dan mencintai Nabi SAW, semestinya akan berdampak pada perbuatan dan perkataannya, yakni mengikuti seluruh apa yang diperintahkan Allah dan Rasulullah SAW. Inilah makna mencintai Nabi dan meneladani Nabi dengan menjadikan beliau qudwah atau teladan.

Memang sangat sulit untuk menciptakan atmosfer ketaatan yang utuh kepada Allah dan meneladani Rasulullah SAW hari ini. Sejak diterapkannya sistem sekulerisme kapitalisme yang juga melahirkan sistem politik demokrasi liberalistik. Sekulerisme memaksa manusia tunduk kepada sistem buatan aqal. Menjauhkan agama sebagai pengatur kehidupan. Agama hanya diperuntukkan untuk ritualisme semata. Diekspresikan di ruang individual yang terbatas.

Nilai yang diusung sekularisme kapitalisme hanyalah nilai meteri (qimah madiyah). Semua diukur berdasarkan selera manusia dan sangat mudah berubah. Rentan jatuh pada perselisihan dan pertikaian. Rapuh. Sangat mungkin terjadi dominasi dan diskriminasi oleh yang berkuasa menentukan aturan dalam kehidupan, yakni para penguasa. Atau para pengusaha yang bisa jadi juga penguasa. 

Sementara iman didalam Islam menuntut semua terikat pada aturan Allah dan meneladani Rasulullah SAW. 
Allah Ta'ala berfirman : 

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
(Q. S. Al Imran : 31) 

Islam menghendaki hubungan manusia dengan dirinya, sesamanya, juga kepada Allah sebagai Tuhan semesta alam tunduk pada ketentuan Islam. Dari kehidupan pribadi, masyarakat dan negara. Makna hakiki Islam sebagai agama adalah keyakinan dan solusi atas semua persoalan manusia. Hingga tidak ada satu persoalanpun yang tidak diatur dengan Islam. Dan hal ini meniscayakan ketundukan secara utuh bagi setiap muslim pada syariat yang berbeda 180° dari aturan dalam sekulerisme kapitalisme hari ini. Dimana sekulerisme kapitalisme itu sendiri memang bukan berasal dari Islam. 

Perjuangan hijrah Rasulullah SAW hingga mampu menerapkan seluruh sisi syari'at secara utuh tersebut dilakukan bukan tanpa perencanaan dan kesungguhan. Beliau SAW sangat bersungguh-sungguh. Dari fase pertama, melakukan pembinaan secara intensif kepada para sahabat dan kaum muslimin (As Sabiqunal Awwalun) dirumah Al Arqom bin Abi Al-Arqom. Dilakukan secara sembunyi-sembunyi demi keamanan. Hingga akhirnya dimulai dakwah secara terang-terangan setelah personil dakwah dirasa cukup mumpuni untuk tampil ketengah-tengah umat. Fase kedua, Rasulullah SAW dan seluruh personil dakwah beliau menyeru umat secara terang-terangan. Menginteraksi semua aturan Islam, menjelaskan keburukan dan kesalahan aturan selainnya serta menyolusikannya dengan Islam melalui seruan dakwah tanpa kekerasan. Fase ketiga adalah fase penerapan aturan Islam secara utuh dan damai di dalam institusi negara (Khilafah) setelah umat menerima opini Islam (ra'yul aam). Hal ini ditandai dengan tumbuhnya kesadaran umat (wa'yul aam) akan benar dan pentingnya aturan Islam untuk diterapkan dan menjadi solusi bagi kehidupan. 

Tentu, untuk mencapai semua itu tidak mudah, butuh kerjasama tim yang solid. Disinilah dibutuhkan jamaah dakwah yang akan terus mengedukasi umat dengan nilai-nilai Islam, sebagaimana dulu Rasulullah SAW dan para sahabat juga melakukan hal yang sama. Karena perjuangan ini sulit bahkan tidak mungkin dilakukan dan ditunaikan sendirian. 

"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Al Imran : 104) 

Ayat ini menjelaskan pentingnya umat Islam berjamaah untuk menunaikan penerapan syariat secara utuh dalam seluruh sendi kehidupan. 

Penerapan syariat Islam yang cukup panjang dimasa lalu, menaungi hampir 2/3 dunia telah memberikan bukti-bukti tak terbantahkan, bahwa Islam mampu memberikan penyelesaian lebih baik hingga menjadi rahmat bagi semesta alam sebagaimana Allah telah menjanjikannya dalam Q. S Al Anbiya (107) :

"Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam".

Sejarawan Barat Will Durant dalam karyanya bersama sang istri, Ariel Durant, dalam serial buku The Story of Civilization, menuliskan bahwa para khalifah telah memberikan jaminan keamanan kepada manusia hingga batas-batas tertentu, hingga menciptakan stabilitas dan kesejahteraan bagi warga, baik Muslim maupun non-Muslim yang hidup di dalam naungan wilayah kekuasaan Islam. Pengakuan ini menyoroti bahwa sistem pemerintahan Islam pada masa keemasannya mampu memelihara tatanan sosial, kemajuan ilmu pengetahuan, dan perlindungan hukum.

"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (Al Maidah : 50) 

Wallahu'alam.
Bagikan:
KOMENTAR